CERITA MASAYARAKAT DARI MAYONG JEPARA RORO AYU MAS SEMANGKIN

1. PENDAHULUAN

Roro Ayu Mas Semangkin adalah puteri dari Sultan Prawoto yang ke-4. Sewaktu kecil di asuh oleh bibinya Ratu Kalinyamat. Setelah dewasa dijadikan sebagai “ garwo selir” dari “Panembahan Senopati”/ Sutowijoyo dari Kerajaan Mataram. Roro Ayu Mas Semangkin kembali ke Jepara untuk menumpas “pagebluk” yang disebabkan oleh kerusuhan dan

banyaknya perampokan di wilayah desa Mayong. Beliau menjadi panglima perang mendampingi Lurah Tamtomo Ki Brojo Penggingtaan dan Ki Tanujayan. Atas keahlian dan ketangkasan dari Roro Ayu Mas Semangkin kerusuhan tersebut dapat dipadamkan. Setelah itu Roro Ayu Semangkin tidak mau kembali ke Mataram dan mendirikan pesanggraha.

Bersama Ki Brojo Penggingtaan dan Ki Tanujayan dan Ki Datuk Singorojo.
Kanjeng Ibu Mas Semangkin adalah sosok seorang tokoh yang sangat berjasa, khusunya bagi warga masyarakat Desa Mayong Lor mengingat beliau adalah cikal bakal, dan pahlawan putri. Perilaku Ibu Mas Semangkin patut disuri tauladani bagi seluruh pemimpin pada seluruh lapisan yang ada diwilayah Kabupaten Jepara. Ketauladanan yang dapat dipetik adalah sifat kesederhanaan, kesehajaan, dan kedekatannya kepada kawula alit. Hal ini ditunjukknannya dalam kehidupan sehari-hari walaupun seorang isteri raja Mataram namun beliau rela mati untuk meninggalkan kemewahan duniawi menuju pengabdian kepada masyarakat kecil.

Dengan mengungkap dan menyajikan cerita dan atau sejarah singkat seorang tokoh teladan, kiranya akan dapat menumbuhkan rasa solidaritas yang tinggi pada diri warga masyarakat untuk dapat memahami dan menyadari arti suatu perjuangan hidup demi kemaslahatan orang banyak. Sehingga keberadaan tokoh ini akan tetap dikenang oleh masyarakat dan muncul sikap untuk turut serta hanguri-uri berbagai peninggalan dan makamnya sebagai salah satu bentuk perwujutan dalam upaya melestarikan adapt dan tradisi masyarakat melalui perlindungan, pemeliharaan dan restorasi termasuk didalamnya acara “buka luwur” yang diadakan disetiap tanggal 10 Muharram.



2. KELAHIRAN RORO AYU MAS SEMANGKIN

Roro Ayu Mas Semangkin, yang kemudian lebih dikenal Ibu Mas atau bergelar Ratu Mas Kagaluhan adalah puteri kedua dari Pangeran Haryo Bagus Mukmin (Sunan Prawoto) cucu dari Sunan Trenggono dan cicit dari Raden Patah. Sunan Prawoto adalah cucu dari Raden Patah putra dari Sultan Trenggono ( Raja ketiga dari Demak Bintoro) dengan Rr. Ayu pembayun putri Sunan Kalijaga yang dikaruniai sepuluh anak. Sedangkan Pangeran Haryo Bagus Mukmin memiliki keturunan tiga orang anak yakni P.Haryo Panggiri (Pangeran Madepandan) yang bergelar Sultan Ngawantipura, Rr. Ayu Mas Semangkin dan Rr. Ayu Mas Prihatin.

Pada saat kelahiran Rr. Ayu Mas Semangkin di Kerajaan Demak Bintoro sedang terjadi kemelut politik disebabkan wafatnya Sultan Trenggono (1546 M). Suksesi pergantian kepemimpinan pasca wafatnya Sultan Trenggono tidak dapat berjalan mulus dikarenakan terjadi konflik di Kerajaan Demak Bintoro., Faktor penyebab konflik dari intern (dalam kerajaan) dan factor ekstern (perbedaan pandangan dari para wali sembilan tentang calon pengganti Sultan Trenggono).

Konflik intern Kerajaan Demak terjadi karena adanya rasa dendam berebut kekuasaan dari keturunan Pangeran Sedo Ing Lepen yang dibunuh oleh Sunan Prawoto (Putera Sulung Sultan Trenggono) ternyata meninggalkan duri dalam hati keturunan Pangeran Sekar Sedo Ing Lepen, puteranya yang bernama Arya Penangsang merasa lebih berhak menduduki tahta kerajaan, sebab dia beranggapan bahwa yang menduduki kursi mahkota tersebut adalah ayahnya, bukan Sultan Trenggono karena Pangeran Sekar adalah kakak dari Sultan Trenggono dan adik dari Patih Unus atau Pangeran Sabrang Lor (Sultan Syah Alam Akbar II) yang memerintah tahun 1518 – 1521 M. Atas dasar inilah Arya Penangsang berusaha untuk merebut dan menduduki tahta kerajaan Demak. Sedangkan faktor ekstern yaitu munculnya aksi saling mendukung dari para wali yang memiliki calon-calon pengganti dari Sultan Trenggono turut mewarnai situasi politik di dalam kerajaan.

Dalam buku Babad Demak disebutkan bahwa Sunan Giri tetap mencalonkan Sunan Prawoto untuk menjadi Sultan Demak tetapi Sunan Prawoto sendri telah tercemar pribadinya karena tertuduh membunuh Pangeran Sekar Sedo Ing Lepen. Sedangkan suara Sunan Kudus lain lagi, beliau mencalonkan Arya Penangsang (Adipati Jipang), karena Arya Penangsang adalah pewaris (keturunan) langsung Sultan Demak dari garis laki-laki yang tertua, kecuali itu Arya Penangsang adalah orang yang mempunyai sikap kepribadian yang teguh dan pemberani.

Sunan Kalijaga beliau mencalonkan Hadiwijaya (Adipati Pajang) atau sering disebut juga dengan nama “ Joko Tingkir / Maskarebet”. Joko Tingkir adalah menantu Sultan Trenggono. Sikap pencalonan Sunan Kalijaga terhadap Pangeran Hadiwijaya disertai dengan alasan bahwa jika yang tampil Pangeran Hadiwijaya, maka pusat kesultanan Demak Bintoro akan dapat dipindahkan ke Pajang, sebab apabila masih di Demak, agama Islam kurang berkembang, sebaliknya akan lebih berkembang pesat apabila pusat kesultanan itu berada di Pedalaman (di Pajang).

Sikap dan pendapat dari Sunan Kalijaga ini tampaknya kurang disetujui oleh Sunan Kudus, karena apabila pusat kerajaan dipindahkan di pedalaman (Pajang) maka sangat dikhawatirkan ajaran Islam yang mulia, terutama menyangkut bidang Tasawuf, besar kemungkinannya bercampur dengan ajaran “mistik” atau Klenik sedangkan Sunan Kudus sedang mengajarkan ajarannya “Wuluang Reh” / penyerahan. Dari pendapat ini menunjukkan bahwa Sunan Kudus tidak setuju dengan sikap dan pendapat Sunan Kalijaga yang mencalonkan Hadiwijaya sebagai pengganti dari Sultan Trenggono.
Situasi politik semakin meruncing dan tambah memanas, sehingga Arya Penangsang mengambil sikap, karena merasa dialah yang lebih berhak menduduki tahta kerajaan Demak Bintoro, maka dengan gerak cepat terlebih dahulu menyingkirkan Sunan Prawoto dengan pertimbangan, Sunan Prawoto lah yang membunuh ayahnya, kedua dialah yang menjadi saingan berat dalam perebutan kekuasaan itu, akhirnya Sunan Prawoto mati terbunuh beserta isterinya oleh budak suruhan Arya Penangsang / “Soreng Pati” yang bernama “Rungkut”, pada tahun 1546. Setelah Sunan Prawoto wafat target berikutnya Joko Tingkir menantu dari Sulltan Trenggono, karena dianggap berambisi untuk menduduki tahta dari Kerajaan Demak.

Situasi politikyang kian meruncing dan memanas menjadi suasana semakin tidak menentu. Prahara perang saudara ini disebabkan oleh api dendam Arya Penangsang yang berhasrat untuk membalas dendam atas kematian ayahandanya dan ambisi menduduki tahta kerajaan Demak Bintoro yang membuat keselamatan jiwa dari keturunan Sunan Prawoto termasuk jiwa Rr. Ayu Semangkin.

Pada waktu Rr. Ayu Semangkin dilahirkan kerajaan dalam suasana penuh ketegangan sehingga ia diberi gelar ‘Ratu Mas Kagaluhan”, yang artinya “galau / was-was. Sunan Prawoto beserta isterinya merasa “galau” / “cemas” karena jiwanya diancam oleh Arya Penangsang.

Sejak dilahirkan Rr. Ayu Semangkin telah menjadi anak yatim piatu sehingga hidupnya penuh penderitaan. Selain itu jiwa keluarganya terancam oleh para Surengpati / pembunuh bayaran dari Arya Penangsang (Aryo Jipang). Keadaan inilah yang menghantui ketentraman keluarga mendiang Sunan Prawoto.



3. MENJADI PUTRI ANGKAT RATU KALINYAMAT

Setelah Sunan Prawoto dan isterinya wafat dibunuh oleh budak suruhan Arya Penangsang yang bernama “Rungkut” kehidupan keluarganya tidak tentram karena selalu mendapatkan ancaman dan teror dari para pengikut Arya Penangsang sehingga akan mengganggu keselamatan jiwanya. Selain itu suasana politik yang memanas menyebabkan Ratu Kalinyamat dan Pangeran Hadlirin berusaha untuk menyelamatkan keluarga Sunan Prawoto yang tidak lain kakak kandungnya.

Maka Pangeran Haryo Panggiri, Ratu Prihatin dan Rr. Ayu mas Semangkin berusaha dilindungi dan diasuh agar jiwanya selamat. Sedangkan Rr. Ayu Mas Semangkin dijadikan sebagai anak angkat Ratu Kalinyamat dan dipindahkan dari Prawoto ke Jepara yaitu Keraton Kalinyamatan (lokasinya di sekitar kawasan pabrik padi Bonjot yang sekarang digunakan sebagai gudang penampungan pupuk pertanian. Letak lokasinya tersebut berjarak kurang lebih satu kilometer sebelah utara dari jalan pertigaan masjid Purwogondo yang sekarang termasuk wilayah Kecamatan Kalinyamatan).

Salah satu prajurit yang turut di gladi perang adalah putri angkatnya sendiri yaitu Rr. Ayu Semangkin dan Rr. Ayu Prihatin. Rr. Ayu Semangkin selalu digladi oleh para tamtama kerajaan hingga memiliki oleh kanuragan cukup tinggi tanpa pilih tanding. Rr. Ayu Semangkin yang telah tumbuh menjadi seorang dewasa sangat giat berlatih dan tekun belajar dibawah bimbingan bibinya Ratu Kalinyamat. Selain belajar ilmu kanuragan dia juga mempelajari ilmu-ilmu agama Islam serta ilmu-ilmu batin untuk menempa dirinya. Ilmu kanuragan digunakan untuk melindungi diri dari musuh terutama dari para pengikut Arya Penangsang. Motivasi dan semangat yang mambara di hati Rr. Ayu Semangkin karena adanya bara api dendam kepada para pengikut Arya Penangsang yagn telah membunuh ayahnya. Ketekunan dan keprigelan Rr. Ayu Semangkin kemudian dijadikan Senopati Putri dari Kerajaan Jepara. Keadaan ini menyebabkan kerajaan Jepara memperoleh kebesaran dan mencapai puncak kejayaannya.

Kebesaran kekuasaan Ratu Kalinyamat dapat diketahui dari sumber sejarah yang ditulis oleh De Coutu dalam bukunya “Da Asia” menyebutkan “Rainha de Jepara, senhora poderosa e rica” artinya raja Jepara seorang perempuan yang kaya dan mempunyai kekuasaan besar. Kekuasaan besar ditunjukkan pada 1550 dan 1574 membantu kerajaan Johor untuk mengadakan penyerangan terhadap kekuatan Portugis di Malaka. Pada tahun 1550 Ratu Kalinyamat mengirimkan 40 kapal perangnya dan 200 orang prajurit pilihan. Sedangkan pada tahun 1574 mengirimkan pasukan sebanyak 15.000 orang dengan 300 kapal perang dan 80 buah Jung besar, namun kedua kali penyerangan itu tidak berhasil dikarenakan strategi perang yang digunakan dapat dipatahkan. Untuk menyelesaikan masalah perang tersebut maka Ratu Kalinyamat bersedia berunding dengan Portugis yang hasilnya mengecewakan. Dalam perundingan tersebut Portugis menuntut untuk menyerahkan enam kapal perangnya dan seluruh amunisinya serta bahan makanan yang dibawanya.

Kekalahan pasukan Ratu Kalinyamat membawa kerugian yang sangat besar sehingga akan berdampak kemunduran bagi kerajaan Kalinyatamatan. Setelah berkuasa cukup lama Ratu Kalinyamat pulah Kerahmatullah, akan tetapi tidak diketahui tahun kapan beliau wafat dan peristiwa apa kemangkatan kanjeng ratu ini tidak diketahui secara pasti. Namun ada sumber yang mengatakan bahwa beliau wafat kira-kira pada tahun 1579 Masehi.

Setelah kemangkatan Ratu Kalinyamat maka kekuasaan pemerintahan diserahkan kepada putra angkatnya yang bernama “Pangeran Jepara” yaitu putra Raja Hasanuddin dari Banten, tetapi banyak terjadi pemberontakan di Pajang. Pada tahun 1578 Kerajaan Pajang runtuh dan diikuti oleh kerajaan Jepara keruntuhan di tahun 1590 M.



4. MENJADI ISTRI SELIR SUTOWIJOYO

Setelah Sutowijoyo berhasil mengalahkan Aryo Penangsang (Adipati Jipang) sesuai janjinya Ratu Kalinyamat menghadiahkan kedua putri angkatnya Rr.Ayu Mas Semangkin dan Rr. Ayu Prihatin diperistri oleh Raden Sutowijoyo dan selanjutnya diboyong dari Jepara ke Pajang. Waktu itu Sutowijoyo menjadi Senopati perang di Kerajaan Pajang. Pada saat inilah Rr. Ayu Semangkin dan Rr Ayu Prihatin mendalami olah kanuragan dan mulai tertarik untuk mulai berlatih perang bersama-sama prajurit Pajang Rr. Mas Semangkin sejak di keraton Kalinyamat dulu, sering berlatih olah kanuragan dan turut mendampigi Ratu Kalinyamat dalam melatih para prajuritnya. Kebiasaan itu juga dilakukannya saat mendampingi suaminya Sutowijoyo di arena latihan maupun di palagan / di tengah-tengah peperangan. Rr Ayu Semangkin dan Sutowijoyo dikenal sebagai senopati pilih tandingyang sangatditakuti oleh para musuh-musuhnya.

Setelah sekian lama mengabdi kepada Sultan Hadiwijaya (ayah angkatnya) bersama Rr. Ayu Semangkin di Pajang kemudian terbetik niat untuk menagih janji hadiah yang pernah dijanjikan oleh Sultan Hadiwijaya ketika sayembara barang siapa yang dapat mengalahkan Arya Penangsang maka akan dihadiahi bumi Pati dan hutan Mentaok. Sultan Hadiwijaya baru menepati satu janjinya yakni memberikan hadiah bumi Pati yang kemudian diserahkan kepada Ki Penjawi sedangkan hutan Mentaok tak kunjung diberikan sehingga Ki Juru Mertani dan Sutowijoyo diam-diam meninggalkan istana Pajang untuk membabat hutan Mentaok yang kelak menjadi kerajaan Mataram.

Setelah meninggalkan PajangKi Juru Mertani dan Sutowijoyo kemudian membabat hutan Mentaok dan mendirikan Pesanggraan di kota Gede dekat Yogyakarta. Sutowijoyo, Ki Ageng Pemanahan dan Rr. Ayu Semangkin dan Rr Ayu Prihatin beserta para pengikutnya turut mesanggrah di kota Gede tersebut. Selain itu senopati perang kerajaan Pajang ini juga ahli spiritual mengadakan interaksi dengan alam gaib penguasa laut selatan yang bernama “Nyai Loro Kidul”. Beliau bersemedi ditemani Ki Juru Mertani duduk disebuah batu hitam yang kini dikenal dengan nama batu gilang. Batu gilang tersebut sebagai tanda bukti bekas telapak kaki dan tempat duduk yang membekas hingga sekarang. Di atas batu gilang itulah senopati Sutowijoyo memperoleh pulung kerajaan seingga kelak menjadi raja di tanah jawa.

Pada saat inilah kelak menjadi embrio kesalah pahaman antara Pajang dan Mataram. Kesalahpaaman ini muncul ketika perilaku pembangkangan oleh Senopati Mataram (Raden Ngabehi Loring Pasar) putra dari Ki Ageng Pemanahan (Kyai Gede Mataram), Ia menjadi senopati Mataram menggantikan ayahnya atas perhatian raja Pajang dengan berbagai persyaratan, antara lain berkewajiban menghadap raja Pajang setiap tahun sebagai ukuran kesetiaannya. Namun apa yang terjadi, Senopati(Raden Ngabehi) pada tahun pertama diberi kelonggaran tidak diwajibkan menghadap ke Pajang. Tetapi kelonggaran itu justru disalahgunakan kesempatan. Ia menyuruh rakyat Mataram membuat batu bata guna mendirikan tembok benteng, dan pada tahun berikutnya ia pun tetap tidak menghadap ke Pajang.

Kyai Gede Mataram dalam waktu singkat dapat menjadikan daerahnya sangat maju. Beliau sendiri tidak mengecap hasil usahanya karena meninggal pada tahun 1575 tetapi puteranya yang bernama Sutowijoyo, melanjutkan usaha itu dengan giat. Sutowijoyo dikenal sebagai orang yang gagah berani. Mahir dalam perang dan karena itu nantinya lebih terkenal sebagai Senopati ing Alaga (Panglima perang). Sementara itu di Pajang terjadi perubahan yang sangat besar. Joko Tingkir meninggal pada tahun 1582. Anaknya pangeran Benowo disingkirkan oleh pangeran Pangiri (dari Demak) dan dijadikan Adipati di Jipang. Maka sebagai sultan Pajang kini bertahtalah Arya Pangiri yang melanjutkan daerah Demak.

Sultan baru ini dengan tindakan-tindakannya yang merugikan rakyat segera menimbulkan rasa tidak senang di mana-mana. Kenyataan ini merupakan kesempatan yang baik bagi Pangeran Benowo untuk merebut kembali kekuasaannya. Ia meminta bantuan kepada Senopati dari Mataram, yang juga menginginkan robohnya Kerajaan Pajang dan sudah terlebih dahulu mengambil langkah-langkah untuk melepaskan daerahnya dari Pajang itu. Pajang diserang dari dua jurusan, dan Arya Pangiri menyerah pada Senopati. Pangeran sendiri tidak sanggup kalau harus menghadapi saudara angkatnya itu, maka bersedia mengakui kekuasaan Senopati. Keraton Pajang dipindah ke Mataram, dan berdirilah kerajaan Mataram (1586).

Pengangkatan Senopati oleh dirinya sendiri menjadi raja Mataram dengan gelar “Panembahan Senopati Ing Alaga Sayidin Panatagama Kalifatullah”. Bila diartikan “Panembahan yaitu orang yang disembah / dijunjung tinggi (dihormati). “Senopati” artinya : panglima perang. “Ing Alaga” artinya : ditengah-tengah palagan / medan pertempuran, Sayidin Panatagama artinya “kepala agama”, “Kalifatullah” artinya “wakil dari Allah”.

Setelah pengangkatan dirinya menjadi raja Mataram mendapat banyak tantangan, lebih-lebih oleh karena segera menunjukkan politik ekspansinya. Bentrokan pertama terjadi dalam tahun 1586, yaitu dengan Surabaya. Dengan perantaraan Sunan Giri pertumpahan darah yang lebih hebat dapat dicegah. Surabaya tidak ditundukkan, tetapi bersedia mengakui kekuasaan Senopati. Dalam tahun itu juga Senopati menghadapi perlawanan kuat dari Madiun Ponorogo namun dapat segera dipatahkan. Pada tahun 1587 Senopati mampu menggempur Pasuruhan bersama Panarukkan dan pada tahun 1595 menaklukkan Cirebon dan Galuh. Pati dan Demak juga membrontak bahkan tentara mereka dapat mendekati ibukota Mataram. Tetapi pasukan Senopati yang dipimpin oleh Rr. Ayu Semangkin, Ki Tanujayan, Ki Brojo Penggingtaan dan keempat perwira yang dipimpin oleh Tumenggung Sukolilo yang bernama “Surokerto” dapat meredam pemberontakan.

Setelah perluasan ke Jawa Tengah bagian pesisir utara, Jawa Timur dan Jawa Barat (Cirebon dan Panarukkan) Senopati wafat tahun 1601 dan kemudian dimakamkan di Kota Gede Yogyakarta bersanding dengan Rr. Ayu Prihatin Garwo Selir Sutowijoyo yang dipersembahkan oleh Ratu Kalinyamat ketika dapat mengalahkan Arya Penangsang. Sedangkan Rr. Ayu Semangkin mendirikan Padepokan di Mayong dan mendirikan rumahnya di Mayonglor hingga wafat.



5. BERTINDAK SEBAGAI SENOPATI PERANG



Pada awal masa pemerintahan Mataram, sisa-sisa prajurit Jipang yang masih setia kepada Arya Penangsang, senantiasa mencptakan berbagai bentuk kerusuhan seperti pencurian, perampokan, pemerkosaan, pembunuhan, serta bentuk-bentuk tindak kejahatan lainnya. Hal ini mereka lakukan demi menciptakan ketidaktenteraman dan keresahan bagi masyarakat di Kasultanan Mataram. Daerah kekuasaan kerajaan Mataram yang seringkali terjadi huru hara yaitu di wilayah Pati, Jepara (lereng Muria), karena wilayahnya terlalu jauh dari pusat pemerintahan kerajaan Mataram.

Selain berbagai kerusuhan dan huru-hara juga terjadi di sekitar Mayong, Jepara. Pada permulaan abad 17, Pati Pesantenan yang dipimpin oleh Bupati Wasis Joyo Kusumo (Bupati Pragola Pati II) bermaksud membangkang mengadakan “kraman” dari kekuasaan Sultan di Mataram. Pembangkangan yang dilakukan oleh Bupati Pati terhadap Kasultanan Mataram ditunjukkan dengan sikapnya yang tidak mau membayar upeti dan tidak mau tunduk kepada perintah Sultan Mataram. Sikap tersebut ditandai dengan berkali-kali tidak hadir pada saat pisowanan agung yang digelar oleh Sultan. Untuk mengetahui kebenaran itu maka dikirimlah telik sandi ke Pati, Jepara dan daerah-daerah lain yang dianggap rawan tersebut. Setelah telik sandi dikirim ke tempat kerusuhan tersebut kemudian melaporkan kebenaran informasi kepada Sultan Mataram.

Atas kebenaran laporan tersebut Sultan Mataram kemudian memerintahkan para perwiranya untuk menumpas huru hara dan kraman di sekitar lerang pegunungan Muria.
Mendengar berita tentang keadaan yang sangat merisaukan dan membahayakan Kasultanan Mataram ini, maka Rr. Ayu Semangkin sebagai salah satu dari Senopati Putri pada waktu Ratu Kalinyamat terketuk dan terpanggil hatinya turut menyelesaikan berbagai macam permasalahan yang menyangkut keamanan di wilayah lereng pegunungan Muria. Rr. Ayu Semangkin merasa berutang budi dengan masyarakat di wilayah Jepara karena bertahun-tahun beliau hidup dan dibesarkan di istana Kalinyamatan serta telah digembleng berbagai ilmu kanuragan, ilmu keprajuritan dan ilmu spriritual.

Rr. Ayu Semangkin dengan keteguhan hatinya untuk turut serta menumpas huru-hara dan “kraman” yang dilakukan oleh Bupati Pati Wasis Joyo Kusumo beserta para sorengpati-sorengpati pengikut Arya Penangsang. Darah keprajuritan dan keprawiraan yang mengalir dalam jiwanya hal ini menyebabkan beliau berkeinginan untuk turun di tengah-tengah palagan dan memimpin sendiri penumpasan tersebut. Keteguhan hatinya untuk menjadi senopati perang melawan Bupati Pati dan para sorang-soreng pati pengikut Aryo Penangsang ini disampaikannya sewaktu ada pisowanan agung / musyawarah agung yang membahas tentang permasalahan gangguan keamanan di lereng pegunungan Muria.

Pada pertemuan ini Rr. Ayu Semangkin memohon ijin untuk menumpas kraman tersebut tetapi Sultan Mataram tidak memperkenankan turut dalam penumpasan tersebut karena mengkhawatirkan keselamatannya. Namun Rr. Ayu Semangkin mendesak dan meyakinkan kepada sultan hingga akhirnya merestui dan mengijinkan untuk turut menumpas huru hara dan kraman tersebut. Setelah mendapatkan ijin dan restu dari Sultan Mataram maka Rr. Ayu Mas Semangkin pergi ke tengah-tengah palagan dengan didampingi oleh dua orang tamtama perang yang sakti mandraguna yakni Ki Brojo Penggingtaan dan Ki Tanujayan.

Selain rombongan prajurit dari Rr. Ayu Semangkin, Panembahan Senopati juga mengirimkan empat perwira terbaiknya guna membantu Rr. Ayu Semangkin yang dikhususkan untuk menumpas kraman yang dilakukan oleh Bupati Pati Wasis Joyo Kusumo. Bupati Pati dikenal sebagai salah satu seorang yang memiliki ilmu kanuragan yang tinggi dan daya kesaktian yang menakjubkan serta memiliki pusaka “Kere Wojo” rampasan dari “Baron Sekeder” yang dapat menambah kesaktiannya dalam pepatah Jawa “Ora tedhas Tapak Palune Pandhe sisaning gurendo”. Keempat perwira masing-masing Kanjeng Raden Tumenggung Cinde Amoh, Kanjeng Tumenggung Roro Meladi, orang menyebut Roro Molo, Kajeng Raden Tumenggung Candang Lawe orang menyebut Raden Slendar, Kanjeng Raden Tumenggung Samirono, orang menyebut Raden Sembrono. Keempat perwira beserta para prajurit dan pasukannya setelah mendapatkan tugas dan restu dari Kanjeng Sultan kemudian segera berangkat ke medan perang.

Keempat perwira tersebut mendapatkan tugas masing-masing sesuai dengan strategi yang digunakan dalam berperang. Suro Kadam mendapat tugas sebagai penunjuk jalan dan sekaligus sebagai prajurit telik sandi. Sebagai prajurit Telik Sandi Suro Kadam bertugas untuk sebagai mata-mata. Agar berhasil dalam menjalankan tugas maka dia mengadakan penyamaran dan bergabung dengan masyarakat. Suro Kadam menjalankan tugasnya dengan penuh keberanian dan kehati-hatian. Suro Kadam dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh Suro Kerto adik kandungnya sendiri. Atas keberanian dan kehati-hatian tersebut Suro Kadam dapat memberikan informasi yang tepat tentang keberadaan Bupati Wasis Joyo Kusumo beserta pasukannya.

Dengan informasi yang tepat inilah keempat perwira dari Kasultanan Mataram kemudian mengadakan koordinasi, bermusyawarah untuk mengatur strategi perangnya agar dapat mengalahkan pasukan Bupati Pati Wasis Joyo Kusumo. Berkat kejituan strategi perang yang digunakan dan semangat dari para prajurit Mataram untuk memenangkan peperangan maka dalam waktu yang cukup singkat Bupati Wasis Joyo Kusumo dan pasukannya dapat ditakukkan.

Sepulang dari peperangan, para prajurit bersemayam / mesanggrah di Kademangan Sukolilo. Saat-saat itu bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW, tanggal 12 Maulud. Para prajurit terbiasa memperingati di setiap tanggal 12 Maulud di Keraton Mataram diadakan upacara Sekaten untuk itu mereka mengadakan upacara Skatenan di Sukolilo, sebagaimana adat Kasultanan setiap tahunnya. Keempat perwira tersebut kemudian mohon ijin untuk tinggal di Sukolilo guna mengawasi para pengikut Bupati Pati Wasis Joyo Kusumo. Panembahan Senopati mengijinkan membangun tenpat tinggal disana serta memberikan “palilah” (ijin), di Kademangan Sukolilo untuk melestarikan Maulid Nabi dengan mengadakan perayaan yang mirip Skaten yang disebutnya Meron, yang dalam bahasa Jawa dimaksudkan ramene tiron-tiron.
Sedangkan tempat berkumpulnya para Tumenggung untuk bertirakat sekarang dikeramatkan dengan nama Talang Tumenggung, sedang daerah tempat mesanggrah, sekarang menjadi Dukuh Pesanggrahan. Diantara keempat Tumenggung tersebut ada yang meninggal di Kademangan Sukolilo, yaitu Kanjeng Raden Tumenggung Cinde Among dan dimakamkan di makan Sentono Pesanggrahan (300 meter arah Timur Laut Talang Tumenggung)

Berkat kerjasama Pasukan Rr. Ayu Semangkin dan Tumenggung Sukolilo beserta para prajurit dan pengikut-pengikutnya maka Bupati Pati Wasis Joyo Kusumo dapat ditumpas. Kemudian keempat perwira tersebut memutuskan untuk menetap dan membangun Desa Sukolilo dan sekitarnya. Sedangkan Rr. Ayu Semangkin melanjutkan perjuangan di Mayong untuk menumpas para perusuh dan pengikut setia Arya Penangsang yang senantiasa membuat huru hara dan kerusuhan seperti perampokan, pemerkosaan, dan pembunuhan sehingga membuat keresahan dan ketidaktentraman masyarakat di Mayong dan sekitarnya.

Berkat semangat dan kegigihan serta kemahiran dari para prajurit Mataram lebih-lebih Lurah Tamtono Ki Brojo Penggingtaan dan Ki Tanujayan. Maka pasukan Rr. Ayu Semangkin dalam waktu yang cukup singkat dapat menumpas para perusuh sehingga keadaan menjadi tenang dan pulih kembali seperti sedia kala. Namun Rr. Ayu Mas Semangkin masih khawatir terjadi kerusuhan lagi sehingga beliau beserta para pengikutnya untuk mendirikan pesanggrahan dan sekaligus membabat hutan di Mayong Lor sebagai tempat tinggalnya.



6. MENDIRIKAN PADEPOKAN DI WILAYAH MAYONG

Berkat kegigihan, kedigjayaan, keperwiraan dan ketangkasan dalam olah kanuragan Rr. Ayu Mas Semangkin dalam memimpin pasukannya sehingga para perusuh perlawanan dalam waktu singkat dapat dipatahkan bahkan menyerah dan bertekuklutut dihadapan para prajurit mataram. Suasana masyarakat diwilayah lereng pegunungan Muria khususnya di daerah Mayong dan sekitarnya mulai kembali aman, dan tentram. Kehidupan masyarakat kembali seperti semula karena masyarakat telah dapat beraktifitas / bekerja dengan tentram.

Tugas suci Rr. Ayu Mas Semangking beserta pasukannya telah dilaksanakan dengan cepat dan sukses, namun beliau dan pasukannya tidak segera pulang ke Mataram , mengingat serangan musuh mungkin bisa terulang lagi maka Kanjeng Ibu Mas Semangking mengerahkan kepada kedua tamtama dan para prajuritnya untuk sementara waktu menumpang di sebuah di padepokan yaitu di sebuah tempat yang dihuni oleh kakek tua. Penghuni padepokan ini adalah seorang pengembara dari pulau Dewata (Bali) dari Singaraja maka tempat tersebut sampai saat sekarang disebut desa Singorojo. Letak desa tersebut berjarak kurang lebih dua kilometer arah utara dari desa Pelemkerep Mayong.

Kakek tua penghuni padepokan tersebut bernama “Idha Gurnandhi” yang lebih dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Ki Datuk Singorojo. Selama rombongan prajurit Mataram berada di tempat Ki Datuk Singorojo, perusuh-perusuh tidak dapat berani datang lagi. Kemudian Kanjeng Ibu Mas yang didampngi oleh kedua tamtama dan dikawal oleh beberapa prajurit Mataram memutuskan untuk tidak kembali ke Mataram. Kanjeng Ibu Mas bersama kedua tamtama (Ki Brojo Penggingtaan dan Ki Tanujaya) yang dikawal oleh prajurit Mataram ingin menetap di daerah baru. Dari tempat Ki Datuk Singorojo, rombongan prajurit Mataram bersama Kanjeng Ibu Mas Semangkin dan kedua Lurah tamtomo menuju kearah selatan kurang lebih 2 kilometer dari Desa Singorojo dan sampailah rombongan tersebut di daerah yang agak landai dan masih ditumbuhi oleh pohon semak-semak belukar.

Kanjeng Ibu Mas Semangkin bersama rombongan memutuskan untuk membabat hutan tersebut dan dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari Rr. Ayu Semangkin dan Ki Brojo Penggingtaan membabat hutan diwilayah utara. Sedankan dibagian selatan dipimpin oleh Ki Tanujayan bersama sebagian prajuritnya.
Pohon-pohon mulai ditebang semak belukar dibakar dan puing-puing disingkirkan. Tanpa terasa pekerjaan tersebut telah memakan waktu berbulan-bulan lamanya. Setelah semua itu dikerjakan maka kedua kelompok rombongan prajurit Mataram tersebut memutuskan untuk tetap tinggal di daerah baru tersebut. Daerah baru tersebut kemudian diberi nama desa ”Mayong”.

Daerah baru bagian utara Kanjeng Ibu Mas yang didampingi ki Brojo penggingtaan bersama prajurit Mataram mendirikan sebuah padepokan sebagai tempat tinggal sedangkan di daerah baru bagian selatan Ki Tanujayan bersama prajurit Mataram atas perintah Kanjeng Ibu Mas juga mendirikan padepokan sebagai tempat tinggal.
Di daerah baru tersebut kedua Lurah Tamtama mengajarkan ilmu-ilmunya baik ilmu kanuragan maupun ilmu kerohanian, budi luhur, kesucian batin terhadap sesama dan suka menolong, penyabar serta rendah hati dan masih banyak lagi mengenai hal-hal menuju kebaikan. Lambat laun berita tersebut tersiar sampai kedaerah-daerah lainnya. Akhirnya banyak orang yang berdatangan untuk meminta pertolongan atau datang untuk menimba ilmu serta banyak pula yang dating berguru bahkan adapula yang datang untuk menetap menjadi murid dan penghuni baru ditempat itu.

Oleh karena kearifan dan kebijaksanaan Kanjeng Mas juga Ki Brojo Penggingtaan dan Ki Tanunjayan bersama prajurit-prajurit ditempat baru masing-masing, yang pada masa sebelumnya sering terjadi keganasan perampok maka sejak dihuninya daerah tersebut oleh penghuni baru kerusuhan-kerusuhan tidak terjadi lagi. Berkat kebesaran ketinggian budi serta kearifan Kanjeng Ibu Mas bersama kedua Tamtama Ki Brojo Penggingtaan dan Ki Tanunjayan maka mereka diangkat menjadi sesepuh dan cikal bakal dari masyarakat Mayonr Lor dan Mayong Kidul.

Setelah beberapa lama singgah di padepokan Datuk Singorojo, Roro Ayu Semangkin bersama dengan Ki Lurah Tamtama, Ki Brojo Penggingtaan dan Ki Tanujayan memutuskan untuk tidak kembali ke Mataram dan mendirikan Padepokan di Mayong Lor dan Mayong Kidul. Setelah padepokan berdiri banyak murid-murid yang datang dari wilayah Jepara, Kudus, Demak, dan Pati untuk berguru kanuragan dan ilmuilmu kejawen serta ilmu-ilmu agama kepada tokoh-tokoh tersebut.

Para murid padepokan dari Roro Ayu Semangkin, Ki Brojo Pengingtaan dan Ki Tanujayan selain berguru kepadanya juga banyak berguru di pdepokan Datuk Singorojo yang kebetulan ahli dalam pembuatan ukit-ukiran dan keramik. Keahlian Datuk Singorojoini kemudian ditularkan kepada murid-murid di padepokan tersebut. Dalam waktu singkat padepokan tersebut banyak kedatangan murid untuk berguru ilmu kanuragan, kejawen, keagamaan dan yang terpenting yaitu belajar untuk membuat gerabah. Sejalan dengan perjalanan waktu muncul perkampungan Undagen di desa Mayong Lor yang mengembangkan gerabah, genteng, keramik dan seni ukir. Dalam perkembanganyya maka pada tahun 1937 Belanda mendirikan pasar Mayong yang kini telah yerbakar untuk menampung berbagai macam barang-barang kerajinan gerabah yang digunakan untuk kepentingan rumah tangga dan berbagai macam mainan seperti manuk-manukan, gajah-gajahan, sapi-sapian, terbang-terbangan dan sebagainya. Keahlian masyarakat Mayong Lor dalam membuat gerabah dan teknik pembuatan keramik maka di Mayong Lor didirikan pabrik keramik. Selain itu Mayong Lor juga dijadikan pusat kawedanan, kecamatan dan di Kecamatan Mayong inipun telah lahir seorang pahlawanan wanita yang bernama “ RA. Kartini” yang kini tempat ari-arinya telah dibangun di dekat pendopo kecamatan Mayong.

Berdasarkan riwayat tentang Kanjeng Ibu Mas yang dikisahkan oleh para pinisepuh bahwa sejak kecil Rr. Ayu Mas Semangkin telah terbiasa dengan pola hidup yang bersahaja dan bahkan cenderung dengan tata kehidupan rakyat kecil serta kehidupan yang dilandaskan atas ketentuan kepercayaan yang beliau anut. Bentuk kepasrahan diri kepada Tuhan YME secara tulus menjadi suatu nafas kehidupan yang senantiasa beliau pelihara hingga akhit hayatnya. Dengan ketulusan, kejujuran dan kesucian batin yang senantiasa beliau pelihara dalam kehidupannya telah menempa dan membentuk jiwa beliau yang benar-benar rendah hati jujur berjiea tulus penyabar dan pengayom bagi masyarakat khususnya masyarakat bawah.

Rasa rendah hati ini dibuktikan dengan kerel;aan beliau yang jasadnya hanya dikebumikan disuatu makam di desa kecil desa Mayong Lor yang letaknya sangat jauh dari kemegahan dari makam kerbat keratin. Dengan demikian bukanlah suatu hal yang mustahil apabila beliau termasuk salah satu hamba yang dekat dan dikasihi Allah Yang Maha Kuasa.



7. RORO AYU MAS SEMANGKIN WAFAT

Setelah mendirikan Padepokan Agung di Mayong bersama Ki Brojo Penggingtaan dan Ki Tanujayan. Rr. Ayu Semangkin kemudian memutuskan untuk menetap di desa Mayonglor dan mendirikan pesanggrahan serta rumah persinggahan di Mayonglor yang kini bekasnya masih ada tetapi hanya tinggal puing-puingnya. Beliau mengabdikan dirinya untuk bersama-sama masyarakat membangun desa Mayong Lor maupun Mayong Kidul. Selain beliau bertempat tinggal di Mayong Lor sesekali juga sowan di Kasultanan Mataram. Dan setelah beliau mengenalkan putranya bernama Danang Syarif dan Danang Sirokol kepada ayahhandanya Panembahan Senopati dan akhirnya kedua putranya ini diangkat menjadi senopati perang. Tak lama kemudian beliau wafat dan dimakamkan di Desa Mayong Lor.

Masyarakat Mayong berkeyakinan bahwa kesucian batin dan kedekatan Kanjeng Ibu Mas dengan sang pencipta, maka banyak warga masyarakat yang memohon kepada Allah SWT dengan berwasilah kepada Kanjeng Ibu Mas. Permohonan umat manusia kepada Tuhannya dengan cara berwasilah kepada leluhur yang dianggap suci dan dekat kepada Allah tidak dilarang menurut agama Islam. Permohonan ini terjadi karena merasa diri mereka tidak sebersih dan sesuci para leluhur yang diwasilahilah ini diharapkan agar hajat mereka kehendaki dapat terkabul.

Berdasarkan anggapan masyarakat tentang diri Rr. Ayu Mas Semangkin sebagai seorang hamba dan kekasih Allah yang dipilih karena sepanjang hidupnya mengabdikan dirinya demi keamanan, ketentraman masyarakat di wilayah Mayong serta turut membangun kehidupan masyarakat menuju kesejahteraan. Untuk menghormati jasanya ini maka beliau dijadikan sebagai cikal bakal dan dimakamkan di Dukuh Gleget Desa Mayonglor yang kini setiap hari dan hari-hari tertentu makamnya dijadikan sebagai tempat para peziarah, dari berbagai golongan masyarakat. Dan setiap tahunnya tepat pada tanggal 10 Suro / Muharram diadakan upacara bukak luwur.



8. MITOS ATU RITUAL ATAU KEGIATAN-KEGIATAN DI MAKAM RORO AYU MAS SEMANGKIN SAMPAI SEKARANG

Berbagai kegiatan rutin di makam Kanjeng Ibu Mas Semangkin dapat dijumpai dan dilihat yang dilakukan oleh warga masyarakat dari berbagai lapisan, diantaranya yang menonjol adalah sebagai berikut:



a. Kegiatan pada hari Kamis sore

Banyak para peziarah yang datang dari berbagai lapisan masyarakat dan dari penjuru desa dan kota, pada umumnya para peziarah tersebut mengadakan selamatan di makam dan berdoa menurut cara dan keyakinan masing-masing yang dipandu oleh Juru Kunci Makam. Dari hari ke hari jumlah para peziarah semakin bertambah. Tidak kurang dari 50 orang yang khusus berziarah ke Makam Kanjeng Ibu Mas Semangkin pada setiap Kamis sore.



b. Kegiatan pada hari Kamis Malam (Malam Jum’at)

Mulai pukul 22.00 WIB, banyak warga masyarakat (khususnya laki-laki) yang datang dari berbagai penjuru desa dan kota untuk melakukan tirakatan dan bersemadi di dalam makam Kanjeng Ibu Mas Semangkin. Dari pengamatan yang dilakukan, tidak kurang dari 10 (sepuluh) orang yang datang untuk melakukan tirakatan dan bersemadi pada setiap Malam



c. Kegiatan pada setiap Malam Jum’at kliwon dan Jum’at Wage

Pada hari-hari tersebut diatas, dimulai sekitar pukul 20.30 WIB diadakan pengajian dan tahlil bersama-sama yang dilanjutkn dengan membaca Sholawat Nariyah. Anggota Sholawat Nariyah tercatat sebanyak tidak kurang dari 65 orang, tetapi yang hadir pada hari-hari tersebut tercatat berkisar antara 45 sampai dengan 50 orang



d. Kegiatan pada Setiap Tanggal 10 sampai dengan 11 Muharram

Sebagai penghormatan warga desa kepada almarhumah Kanjeng Ibu Mas Semangkin, maka pada setiap tanggal tersebut diatas diadakan peringatan hari wafatnya Kanjeng Ibu Mas Semangkin (Haul). Dari catatan Pengurus menunjukkan adanya peningkatan jumlah pengunjung pada setiap diadakannya haul.

Haul yang diselenggarakan secara terbuka untuk umum ini baru dirintis sejak tahun 1999 M. Meskipun peringatan-peringatan hari wafatnya Kanjeng Ibu Mas Semangkin ini belum lama dipublikasikan, tetapi catatan pengurus makam menunjukkan adanya peningkatan jumlah pengunjung yang sangat mengejutkan, karena pada haul Kanjeng Ibu Mas Semangkin tahun 2001 tidak kurang dari 4.000 pengunjung yang hadir. Pada haul tahun-tahun sebelumnya hanya tercatat tidak lebih dari 1.500 pengunjung. Kenyataan ini menunjukkan betapa semakin sadarnya warga masyarakat dalam menghargai dan menghormati para leluhurnya.



e. Kepercayaan Rakyat (MITOS RAKYAT)

Terkait dengan cerita Ibu Mas Semangkin terdapat perilaku dan kepercayaan yang hidup di kalangan masyarakat Mayong Lor. Kepercayaan yang terkait dengan Ibu Sumangkin antara lain Di atas makam Ibu Mas Semangkin sering terlihat fenomena gaib. Jika terlihat bola api menunjukkan ada musibah. Bola api merah berjalan di atas rumah makam Fenomena tersebut sesekali terlihat di atas rumah makam Ibu Semangkin. Fenomena tersebut pernah terlihat ketika terjadi perkelahian antar desa yang melibatkan Desa Mayong Lor.

Masyarakat Mayong Lor sebagian juga percaya orang-orang perempuan tidak boleh memasuki komplek makam dengan memakai baju warna hijau pupus daun. Warna tersebut adalah kesukaan Ibu Mas Semangkin ketika masih hidup. Pantangan memakai baju warna pupus bagi perempuan diperhatikan oleh sebagian masyarakat Mayong Lor sampai sekarang

Patahnya cabang pohon besar ( bergat ) dilingkungan makam Ibu Mas Semangkin, setiap ada calon pemimpin desa (petinggi) memberikan isyarat tokoh yang akan terpilih. Kearah calon yang mana cabang pohon itu patah maka calon tersebut yang akanterpilih. Masyarakat setempat percaya bahwa peristiwa itudapat dilihat beberapa kali pada saat pemilihan kepala desa (petinggi).
Ketoprak atau seni pertunjukan dilarang memainkan peran tokoh ibu Mas Sumangkin. Jika hal itu dilanggar maka besaar kemungkinan penyelenggara dan pemainnya akan mendapat mushibah. Oleh karena itu penduduk sampai sekarang tidak bernai memainkan peran Ibu Mas Semangkin pada pertunjukan seni Ketoprak. Pada saat ini tokoh pemerintahan bupati, camat, petinggi dan kiay/ ulama.menghadiri acara buka luwur dan khaul Ibu Mas Semangkin. Acara khaul juga dihadiri keturunan Sunan Kalijaga di Jepara dan sekitarnya.


sumber :http://www.kudusterkini.com/Lomba-Menulis/cerita-masayarakat-dari-mayong-jepara-roro-ayu-mas-semangkin.html

baca selanjutnya

Sejarah Budaya Jepara Ratu Kalinyamat

Ratu Kalinyamat adalah putri Sultan Trenggono cucu dari Raden Patah yaitu Sultan Demak yang pertama. Nama aslinya masih menjadi perdebatan bahkan sampai sekarang belum terbukti kebenarannya, ada yang menyebutnya Ratu Arya Jepara, Ratu Kencana dan Raden Ayu Wuryani. Nama-nama tersebut di dasarkan pada penarikan nama dari silsilah da Raden Patah. Salah satu perkawinan Raden Patah yaitu dengan Puteri Cina, di anugerahi enam putra antara lain:


1. Ratu Mas,

2. Pangeran Sabrang Lor,

3. Pangeran Sedo Ing Lepen (Pangeran Sekar),

4. Pangeran Trenggono,

5. Raden Kaduruwan, dan

6. RadenPamekas



Setelah Raden Patah meninggal, Sultan Demak yang pertama digantikan oleh putranya yaitu Pangeran Sabrang Lor tetapi selang beberapa tahun Pangeran Sabrang Lor wafat. Sehingga tahta kerajaan yang seharusnya diserahkan kepada Pangeran Sedo Ing Lepen tetapi tahta kerajaan kemudian diserahkan kepada Sultan Trenggono. Hal ini di karenakan Pangeran Sedo Ing Lepen
dibunuh oleh Sunan Prawoto.

Setelah penobatan Raden Thoyib bergelar Sultan Hadlirin menjadi Adipati Jepara, yang sekaligus merupakan pengampu dari putra mahkota Arya Panggiri, di karenakan putra mahkota belum dewasa. Penobatan Raden Thoyib tersebut kira-kira terjadi pada tahun 1536, dan tetap menjadikan Kalinyamat sebagai pusat pemerintahan di Kadipaten Jepara. Kekuasaan meliputi negeri Jepara, Pati, Rembang dan Juwana.

Sementara itu Ratu Kalinyamat yang merupkan istri dari Raden Thoyib, setelah penobatan suaminyatersebut Ratu kalinyamat dalam bernegaraan lebih bersifat pendamping saja. Hampir semua urusan yang menyangkut pemerintahan diserahkan sepenuhnya kepada suaminya. Bahkan Patih Cie Wie Gwan, bekas ayah angkatnya di Tiongkok di undang dari tiongkok dan kemudian diangkat menjadi patih kerajaan, guna membantu pemerintahan Sultan Hadlirin.

Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin pembangunan kerajaan mengalami kemajuan yang sangat pesat di berbagai bidang antara lain agama Islam, ekonomi perdagangan, sosial dan kebudayaan terutama seni ukir, pertahanan dan keamanan. Dalam menjalankan pemerintahannya di pusatkan di Kalinyamat sedangkan untuk tempat pesanggrahan atau peristirahatan dan pertapaan berada di desa Mantingan yang sekarang menjadi makam Ratu Kalinyamat dan keluarganya.

Pesanggrahan di Desa Mantingan selalu dikunjungi oleh Sultan Hadlirin dan Ratu Kalinyamat apabila terdapat suatu masalah atau kepentingan. Desa Mantingan berasal dari kata pemantingan atau pementing yang artinya tempat yang sangat penting. Namun dari beberapa sumber dijelaskan Mantingan berasal dari kata Manting yang artinya pohon “Manting” atau “Salam”, tempat ini selalu dikunjungi oleh Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin serta Sunan Kalijaga.

Agar pesanggrahan ini dapat dijadikan sebagai tempat peristirahatan maka dilengkapi dengan bangunan masjid. Dalam pembangunan masjid berbagai ornament dipercayakan kepada ayah angkatnya yang bernama Patih Cie Wie Gwan, yang memang memiliki keahlihan mengukir batu. Patih Cie Wie Gwan disuruh oleh Sultan Hadlirin untuk mencari ornament ukir-ukiran dari Tiongkok tetapi yang dibawa bukan ukir-ukiran melainkan hanya batu-batu putih. Batu-batu putih tersebut akhirnya diukir oleh masyarakat Desa Mantingan atas perintah dan bimbingan dari Patih Cie Wie Gwan. Dari keahlian sang Patih inilah maka diberi gelar “patih Sungging Badar Duwung” apabila diartikan sungging berarti ‘memahat” Badar berarti “batu’ ata “akik” sedangkan Duwung berarti “Tajam’ atau dalam bahasa Jawa berarti “Keris”. Sehingga keahlian mengukir ini sampai sekarang dijadikan sebagai mata pencaharian masyarakat desa Mantingan dan Industri mebel.

Pembangunan masjid Mantingan ini ditandai dengan Cadrasengkala yang berbunyi “Rupa Brahmana Warna Sari” yang nilainya : “Rupa = 8, Brahmana = 4, Warna = 7 dan Sari = 1” jadi apabila dibalik menjadi 1748. Waktu ini menunjukkan masa pemerintahan Ratu Kalinyamat.

Setelah lama menikah Sultan Hadlirin dengan Ratu Kalinyamat belum dikaruniai putra sehingga menimbulkan kegelisahan. Usaha yang dilakukan yaitu mengambil putra angkat dari Sultan Hasanuddin Banten bernama Dewi Wuryan Retnowati, tetapi tidak lama kemudian meninggal dunia. Usaha Ratu Kalinyamat dan Pangeran Hadliri untuk tetap berkeinginan memiliki putra terus dilaksanakan demi kelangsungan keturunannya sehingga sang Ratu Kalinyamat menyuruh Sultan Hadliri menikah lagi. Ratu Kalinyamat rela dimadu dan demi untuk mendapatkan penerus kerajaan. Konon untuk mengurus perkawinan ini dilakukan oleh Ratu Kalinyamat sendiri dengan menjodohkannya pada Raden Ayu Probodinabar putri dari Kanjeng Sunan Kudus.

Ini berarti selain perkawinan yang didasari oleh keinginan mendapatkan keturunan juga didasari perkawinan politik yaitu menguatkan kedudukan Sultan Hadlirin yang merupakan perpaduan dari dua kekuasaan besar. Ketika di Demak terjadi krisis perebutan kekuasaan terjadilah serangkaian pembunuhan yang dilakukan oleh Sunan Prawoto, putra dari Sultan Trenggono terhadap “Pangeran Sekar” (Pangeran Sedo Ing Lepen) kakak kandung dari Sultan Trenggono. Oleh karena itu, yang diangkat sebagai sultan adalah Sultan Trenggono.
Setelah Sultan Trenggono wafat kemudian Sunan Prawoto naik tahta menggantikan ayahandanya tetapi dalam waktu yang tidak lama kemudian Sultan Prawoto dibunuh oleh Arya Penangsang melalui tangan abdinya yang bernama Rungkut.

Setelah Sunan Prawoto wafat, atas prakarsa mayoritas wali Sembilan diserahkan kepada menantu sultan Trenggono yang bernama Maskarebet atau Joko Tingkir. Setelah dinobatkan menjadi raja Demak Bintoro ia bergelar Sultan Hadiwijaya. Sultan Hadiwijaya kemudian memindahkan pusat kerajaanya dari Demak Bintoro ke Pajang pada tahun 1568 M yaitu daerah Tingkir tempat kelahirannya (di dekat Boyolali).

Tujuan memindahkan pusat kerajaan dari Demak Bintoro ke Pajang yaitu mendekati para pendukungnya di Tingkir serta menjauhi lawan-lawan politiknya. Joko Tingkir menjadi raja pertama dari kerajaan Pajang ini. Kedudukannya disahkan oleh Sunan Giri (seorang dari wali 9), dan segera mendapat pengakuan dari adipati-adipati di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Untuk menghindari munculnya gejolak pasca penobatan Joko Tingkir sebagai sultan, di Demak Bintoro maka diangkatlah Arya Panggiri menjadi Adipati di Demak Bintoro / raja kecil namun umurnya masih terlalu muda sehingga dia menjadi “ Yuda Raja” / raja muda dan sebagai wali rajanya adalah Sultan Hadlirin yang berkedudukan di Jepara. Sultan Hadlirin kemudian memboyong kedua adiknya yaitu Rr. Ayu Semangkin dan Rr. Ayu Prihatin beserta harta kekayaan Kerajaan Demak.

Setelah tuntutan pengadilan atas terbunuhnya Sunan Prawoto tidak dikabulkan bahkan mendapatkan jawaban yang mengecewakan maka Sultan Hadlirin dan Ratu Kalinyamat segera undur diri bahkan tidak berpamitan dengan membawa perasaan kecewa. Sepulang dari pendopo “ndalem Sunan Kudus” Pangeran Hadlirin dan Ratu Kalinyamat dihadang oleh para Sorengpati-Sorengpati (Brutus / pembunuh bayaran) dan akhirnya Sultan Hadlirin di keroyok hingga terluka parah dan jiwanya tidak tertolong. Setelah terluka parah para ”abdi dalem” menyelamatkan jiwa Sultan Hadlirin dengan memapah/menandu untuk dibawa pulang ke kerajaan Kalinyamatan. Peristiwa itu berlangsung pada senja hari menjelang matahari terbenam (Jawa: ‘surup”).

Peristiwa ini dijadikan sebagai momentum pemberian nama-nama desa yang dilalui oleh Sultan Hadlirin berdasarkan keadaan jasatnya seperti:

Desa Damara yang berasal dari kata dammar “thing, uplik” / lampu teplok. Pada waktu itu telah banyak orang yang menghidupkan ‘damar”, sehingga disabda besok rejaning jaman desa ini akan diberi nama desa Damaran. Perjalanan dilakukan ke arah barat. Keadaan Sultan Hadlirin lukanya menganga dan mengeluarkan darah segar sehingga becek / “jember” sehingga disabda kelak akan menjadi desa Jember.

Sultan Hadlirin dibawa atau ditandu ke arah barat keadaan lukanya semakinj parah berjalannya ‘merambat-rambat” sehingga diberi nama desa Perambatan. Dari kata “merambat”. Perjalanan terus dilanjutkan kea rah barat, kondisi fisik Sultan Hadlirin semakin kritis darah mengalir kesekujur tubuh. Para abdi dalem berusaha untuk membersihkan darah yang membasah disekujur tubuhnya agar bersih maka sesampainya di sebuah sungai berhenti sejenak untuk membasuh luka dan darah tersebut. Para abdi dalem merasa terpana setelah darah dan luka-lukanya dibersihkan karena air sungai berubah menjadi “wungu” sehingga disabda kelak menjadi desa Kaliwungu.

Para abdi dalem yang memapah / menandu telah kepayahan sehingga sempoyongan maka di sabdanya kelak nanti “rejane jaman” menjadi desa Mayong. Dari kata sempoyongan sehingga menjadi Mayong. Perjalanan terus dilanjutkan namun suasana cuaca yang tidak bersahabat hujan dan angin turun lebat sehingga abdi dalem yang memapah / menandu terjatuh dan jasad Sultan Hadlirin jatuh di sungai dan hanyut menyangkut dikaki sebuah jembatan sehingga disabda kelak pada saat ramainya jaman akan menjadi Desa Karasak. Karasak berasal dari kata krasak-krasak jasad Sultan Hadlirin yang tersangkut di kaki jembatan airnya berbunyi krasak-krasak.

Perjalanan terus dilanjutkan hingga sampai di istana Kalinyamatan dan jasad Sultan Hadlirin dikebumikan di Desa Mantingan Kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara.
Atas dasar peristiwa tersebut maka masyarakat desa yang berada disepanjang jalan Jepara mulai dari desa Damaran yang dilalui pertama kali oleh Sultan Hadlirin hingga desa Krasak masyarakatnya setiap tanggal 15 Ruah mengadakan tradisi Baro’atan yang maksud dan tujuannya adalah untuk mengenang, menghormati wafatnya Sultan Hadlirin dan memperingati hari jadi dari masing-masing desa tersebut dengan mengadakan selamatan / kenduri bersama dengan hidangannya yaitu nasi ambengan dan dilengkapi dengan juwadah puli yang ditaburu parutan kelapa serta apem di musolla-musolla, masji-masjid dan di balai desa-balai desa derta pemanjaran uplik di depan rumah-rumah penduduk. Selain itu juga untuk memeriahkan suasana diadakan pawai obor/oncor yang dilanjutkan tirakatan. Untuk memeriahkan suasana itu di Pasar Mayong diadakan pameran mobil-mobilan dari kertas dengan berbagai bentuk selama satu minggu.

Meninggalnya Sultan Hadlirin dan Sultan Prawoto membuat kepedihan yang mendalam dan kekalutan luar biasa dari Ratu Kalinyamat sehingga dia bersumpah akan mengadakan “Tapa Ngrawe” di Gunung Donoroso. Tapa Ngrawe artinya bertapa tanpa sehelai / selembar kainpun atau bertapa dengan tanpa memakai panji-panji / simbul kerajaan (meninggalkan segala bentuk kemewahan duniawi). Sumpah ini dilakukan sebagai bentuk protes dan meminta pengadilan dari Tuhan atas meninggalnya kedua orang yang sangat dicintainya. Pertapaannya ini tidak dapat diakhiri sebelum keramas darah, dan membersihkan / mengkesetkan telapak kakinya “dijambul” / rambut kepala Arya Penangsang sebagai balas dendam atas kematian Sultan Hadlirin dan Sultan Prawoto. Selain itu Ratu Kalinyamat juga bersayembara barang siapa yang dapat mengalahkan Arya Penangsang kalau perempuan akan diakui sebagai saudara “sinoro wedi” bila laki-laki akan diberikan kedua putera angkatnya yang bernama Rr. Ayu Semangkin dan Rr. Ayu Prihatin.

Tindakan ini membingungkan Sultan Hadiwijaya yaitu kakak ipar dari Ratu Kalinyamat karena meninggalkan keraton sehingga Sultan Hadiwijaya berusaha untuk menemukan Sang Ratu. Akhirnya Sultan Hadiwijaya menemukan tempat pertapaannya dan meminta Ratu Kalinyamat pulang ke keraton tetapi menolak dan bersumpah sebelum berhasil membalaskan kematian dari kakak dan suaminya belum mau meninggalkan tempat pertapaannya. Dari perkataan tersebut Sultan Hadiwijaya berjanji akan berusaha untuk mewujudkan keinginan sang Ratu.

Kemudian Sultan Hadiwijaya mengadakan pertemuan yang diikuti oleh Ki Panjiwa, Ki Pamanahan dan Ki Juru Mertani (Murid Sunan Kalijaga) dari pertemuan ini menghasilkan suatu kesepakatan serta mengatur strategi untuk menghadapi Arya Penangsang. Sultan Hadiwijaya mengadakan pengumuman yang isinya barang siapa yang dapat mengalahkan Arya Penangsang maka akan diberi hadiah bumi Pati dan Alas Mentaok (Mataram). Akhirnya sang putra angkat bernama “Sutawijaya” menyanggupi dan menjadi senapati perang ketika baru berumur 16 tahun.
Untuk menghadapi Arya Penangsang maka diatur strategi yaitu dengan menantang Arya Penangsang melalui sepucuk surat yang diberikan oleh pekatik / juru pencari rumput dengan memotong telinganya. Telinga tersebut kemudian digantili dengan surat tantangan.

Tukang pekatik Arya Penangsang dengan mengerang-ngerang kesakitan dan akhirnya mengadukan perihal surat tantangan ini bersama Patih Mataun. Dalam surat tantangan itu berbunyi “Hai apabila engkau seorang laki-laki sejati, ayo berperang-tanding. Jangan membawa wadya bala tentara, menyeberanglah di barat seberang sungai Bengawan Sore Caket, aku tunggu di situ”. Karena merasa mendapatkan tantangan maka Arya Penangsang mukanya merah padam meja didepannya ditendang hingga pecah berkeping-keping, sementara piring dan mangkok berhamburan kesana kemari, lalu berdiri dan menaiki kuda “Gagak Rimang” dengan membawa tombak “Dandang Mungsuh”.

Sedangkan Sutawijaya sudah menunggu diseberang Kali Bengawan Sore Caket beserta 200 prajurit. Karena Kuda Gagak Rimang kuda jantan maka Sutawijaya menaiki kuda betina dengan warna putih bersih yang akhirnya Kuda Gagak Rimang menjadi binal dan naik birahinya sehingga mengejar Kuda Sutawijaya. Arya Penangsang tidak begitu menanggapi tantangan Sutawijaya bahkan memaki-makinya, “Hai Sutowijoyo, engkau anak kecil bukan tandinganku !”. mana Hadiwijoyo…manaa… akan kupenggal kepalanya. Pada kesempatan inilah Sutawijaya menggunakan kelengahan Arya Penangsang dengan melepaskan tombak Kyai Pleret ke arah perutnya.

Arya Penangsang yang sakti mandraguna terluka, usunya terburai keluar kemudian mengalungkan usunya digagang kerisnya yang bernama “Brongot Setan Kober” sambil menantang “Hai Sutowijoyo engkau anak kecil bukan tandinganku, mana Hadiwijono…! Mana… Hadiwijoyo. Sutowijoyo mengetahui setelah Arya Penangsang terluka maka menjauhlah kudanya dan sambil meledek dan menantangnya, karena merasa diledek dan ditantang emosinya tidak terkontrol akhirnya Keris Brongot Setan Kober dihunus dari warangkanya dan mengenai ususnya sendiri hingga akhirnya Arya Penangsang Tewas. Kematian Arya Penangsang tewas disampaikan oleh Sultan Hadiwijaya kepada Ratu Kalinyamat. Sejak saat itu Ratu Kalinyamat mengakhiri masa pertapaannya dan berkemas kembali ke istana kerajaan.

Sejak sekembalinya Ratu Kalinyamat, Keraton Kalinyamatan kembali di urus oleh Sang ratu sampai akhir hayatnya. Dan disemayamkan di samping suaminya. Konon cerita mistim makam ratu kalinyamat sebagai makam mempercepat jododh.

sumber : http://www.kudusterkini.com/Lomba-Menulis/sejarah-budaya-jepara-ratu-kalinyamat.html

baca selanjutnya

TUTORIAL EDIT PHOTO

Ne gan gwe kasih link tutorial edit photo
http://www.photoshop21.com/category/belajar-photoshop/tutorial
http://bestphotoshoptutorials.net/2009/10/10/graciano-castillo-espinosa-chanito/
http://www.tutorialking.eu/
http://abduzeedo.com/fying-girl-photoshop
http://psd.tutsplus.com/category/tutorials/

baca selanjutnya

KODE RAHASIA ALL HANDPHONE

* *3370# Untuk mengaktifkan Full Rate Codec (EFR) - HP Nokia kamu akan memiliki kualitas suara yang maksimal tapi, waktu bicara akan berkurang sekitar 5%
* #3370# Untuk mematikan Full Rate Codec (EFR)
* *#4720# Mengaktifkan Half Rate Codec - Ponsel nokia kamu akan memiliki kualitas suara terendah, tetapi akan meningkatkan waktu bicara (Talk time) sekitar 30%
* *#4720# Mematikan fungsi Half Rate Codec
* *#0000# Menampilkan informasi firmware ponsel
* *#9999# Menampilkan informasi firmware ponsel jika *#0000# ngga jalan
* *#06# Untuk mengetahui International Mobile Equipment Identity (IMEI Number) kita
* #pw+1234567890+1# Mengunci status provider. (gunakan tanda “*” untuk memisahkan antara “p,w” dan tanda “+” )
* #pw+1234567890+2# Mengunci status Network. (gunakan tanda “*” untuk memisahkan antara “p,w” dan tanda “+” )
* #pw+1234567890+3# Mengunci Status Country. (gunakan tanda “*” untuk memisahkan antara “p,w” dan tanda “+” )
* #pw+1234567890+4# Mengunci status SIM Card. (gunakan tanda “*” untuk memisahkan antara “p,w” dan tanda “+” )
* *#147# mengetahui siapa yang nelpon kamu terakhir kali (hanya untuk vodofone)
* *#1471# panggilan terakhir (hanya nntuk vodofone)
* *#21# Mengetahui kemana semua panggilan dialihkan
* *#2640# Menampilkan security code yang sedang digunakan
* *#30# untuk menampilkan private number (Biasanya IM3 neh)
* *#43# untuk memeriksa status “Call Waiting” di ponsel kamu.
* *#61# untuk memeriksa nomor panggilan yang “On No Reply”
* *#62# untuk memeriksa nomor panggilan yang “Divert If Unreachable (no service)” dan mengetahui kemana dialihkannya
* *#67# untuk memeriksa nomor panggilan yang “On Busy Calls” dan mengetahui kemana dialihkannya
* *#67705646# untuk menghilangkan logo operator pada 3310 & 3330
* *#73# Untuk menghapus timer ponsel dan score pada games ponsel
* *#746025625# Menampilkan SIM Lock Status, kalo ponsel kamu mendukung fungsi power saving “SIM Clock Stop Allowed”, itu berarti kamu bisa mendapatkan waktu terbaik untuk standby (Berapa lama kamu standby)



* *#7760# kode produk
* *#7780# mengembalikan settingan pabrik
* *#8110# melihat versi untuk nokia 8110
* *#92702689# menampilkan - 1.Serial Number, 2.Date Made, 3.Purchase Date, 4.Date of last repair (0000 untuk no repair), 5.Transfer User Data. Untuk keluar dari mode ini, kamu perlu me-restart HP kamu
* *#94870345123456789# mematikan fungsi PWM-Mem
* **21*nomorhp# menghidupkan “All Calls” dan mengalikan ke nomer yang tertulis
* **61*nomorhp# menghidupkan “No Reply” dan mengalikan ke nomer yang tertulis
* **67*nomorhp# menghidupkan “On Busy” dan mengalikan ke nomer yang tertulis 12345 ini security code bawaan nokia (Standard)





LG SECRET CODES:

LG all models test mode: Type 2945#*# on the main screen.
2945*#01*# Secret menu for LG

IMEI (ALL): *#06#
IMEI and SW (LG 510): *#07#
Software version (LG B1200): *8375#
Recount cheksum (LG B1200): *6861#
Factory test (B1200): #PWR 668
Simlock menu (LG B1200): 1945#*5101#
Simlock menu (LG 510W, 5200): 2945#*5101#
Simlock menu (LG 7020, 7010): 2945#*70001#
Simlock menu (LG 500, 600): 2947#*

LG-U81XX SPECIAL CODES
Code to read phone version :
- Phone without SIM
- Enter 277634#*# or 47328545454#
- Select 'SW Ver.info'
Code to reset phone :
- Phone without SIM
- Enter 277634#*# or 47328545454#
- Select 'Factory Reset'
Code to enter UNLOCK MENU :
- Phone wit SIM inside
- Enter 2945#*88110#
Test Menu 8330 : 637664#*#
Test Menu 8180 V10a: 49857465454#
Test Menu 8180 V11a: 492662464663#
Test Menu 8130-8138: 47328545454#
Test Menu 8110-8120: 277634#*#

MOTOROLA SECRET CODES
On the main screen type

IMEI number:
*#06#
Code to lock keys. Press together *7
Note: [] (pause) means the * key held in until box appears.

Select phone line - (use this to write things below the provider name):
[] [] [] 0 0 8 [] 1 []
Add phonebook to main menu:
[] [] [] 1 0 5 [] 1 []
Add messages to main menu:
[] [] [] 1 0 7 [] 1 []
Copy SIM memory (phonebook menu):
[] [] [] 1 0 8 [] 1 []
Eng Field options (main menu):
[] [] [] 1 1 3 [] 1 []
Slow (Frequency of search menu):
[] [] [] 1 0 1 [] 1 []
Medium (Frequency of search menu):
[] [] [] 1 0 2 [] 1 []
Fast (Frequency of search menu):
[] [] [] 1 0 3 [] 1 []
Enable EFR:
[] [] [] 1 1 9 [] 1 []
Function :
[] [] [] # # # [] 1 []

Change pin:
[] [] [] 0 0 4 [] 1 []
Unblocking using the "puk" number:
[] [] [] 0 0 5 [] 1 []

There are lots of similar codes exist. If you change the last number to 0 you can deactive that code. The 3 digit number at the middle are from 0 to 999. I put the most interesting codes. (EFR):Enhanced Full Rate Codec.

You can change GSM frequencies to 900/1800 by entering the enginnering model. Following the below steps:
enter menu and press 048263* quickly, then you will enter the secret engineering menu
under "Opcode"
input 10*0*3 for GSM 900
10*0*4 for GSM 1800
10*0*5 for GSM 1900
10*0*6 for dual band GSM 900/1800
10*0*7 for dual band GSM 850/1900

To add extra message space 4 your Motorola C350 C450 C550 or C650, press menu button, press 048263* quickly, then on the popup menu enter 47 press ok.press 50 and ok.press 1 ok.press 64 ok.press 1 ok.press 186 and ok.You will receive an extra 50 msgs memory space.Switch phone off and back on.(not tested)


NOKIA SECRET CODES:


On the main screen type


*#06# for checking the IMEI (International Mobile Equipment Identity).
*#7780# reset to factory settings.
*#67705646# This will clear the LCD display
*#0000# To view software version.
*#2820# Bluetooth device address.
*#746025625# Sim clock allowed status.
*#62209526# - Display the MAC address of the WLAN adapter. This is available only in the newer devices that supports WLAN like N80
#pw+1234567890+1# Shows if sim have restrictions.

*#92702689# - takes you to a secret menu where you may find some of the information below:
1. Displays Serial Number.
2. Displays the Month and Year of Manufacture
3. Displays (if there) the date where the phone was purchased (MMYY)
4. Displays the date of the last repair - if found (0000)
5. Shows life timer of phone (time passes since last start)

*#3370# - Enhanced Full Rate Codec (EFR) activation. Increase signal strength, better signal reception. It also help if u want to use GPRS and the service is not responding or too slow. Phone battery will drain faster though.
*#3370* - (EFR) deactivation. Phone will automatically restart. Increase battery life by 30% because phone receives less signal from network.
*#4720# - Half Rate Codec activation.
*#4720* - Half Rate Codec deactivation. The phone will automatically restart

If you forgot wallet code for Nokia S60 phone, use this code reset: *#7370925538#
Note, your data in the wallet will be erased. Phone will ask you the lock code. Default lock code is: 12345

Press *#3925538# to delete the contents and code of wallet.

*#7328748263373738# resets security code.
Default security code is 12345

Unlock service provider: Insert sim, turn phone on and press vol up(arrow keys) for 3 seconds, should say pin code. Press C,then press * message should flash, press * again and 04*pin*pin*pin#

Change closed caller group (settings >security settings>user groups) to 00000 and ure phone will sound the message tone when you are near a radar speed trap. Setting it to 500 will cause your phone 2 set off security alarms at shop exits, gr8 for practical jokes! (works with some of the Nokia phones.)

Press and hold "0" on the main screen to open wap browser.


SAMSUNG SECRET CODES:

Software version: *#9999#
IMEI number: *#06#
Serial number: *#0001#
Battery status- Memory capacity : *#9998*246#
Debug screen: *#9998*324# - *#8999*324#
LCD kontrast: *#9998*523#
Vibration test: *#9998*842# - *#8999*842#
Alarm beeper - Ringtone test : *#9998*289# - *#8999*289#
Smiley: *#9125#
Software version: *#0837#
Display contrast: *#0523# - *#8999*523#
Battery info: *#0228# or *#8999*228#
Display storage capacity: *#8999*636#
Display SIM card information: *#8999*778#
Show date and alarm clock: *#8999*782#
The display during warning: *#8999*786#
Samsung hardware version: *#8999*837#
Show network information: *#8999*638#
Display received channel number and received intensity: *#8999*9266#

*#1111# S/W Version
*#1234# Firmware Version
*#2222# H/W Version
*#8999*8376263# All Versions Together
*#8999*8378# Test Menu
*#4777*8665# GPSR Tool
*#8999*523# LCD Brightness
*#8999*377# Error LOG Menu
*#8999*327# EEP Menu
*#8999*667# Debug Mode
*#92782# PhoneModel (Wap)
#*5737425# JAVA Mode
*#2255# Call List
*#232337# Bluetooth MAC Adress
*#5282837# Java Version

Type in *#0000# on a Samsung A300 to reset the language
Master reset(unlock) #*7337# (for the new samsungs E700 x600 but not E710)
Samsung E700 type *#2255# to show secret call log (not tested)
Samsung A300, A800 phone unlock enter this *2767*637#
Samsung V200, S100, S300 phone unlock : *2767*782257378#



On the main screen type

#*4773# Incremental Redundancy
#*7785# Reset wakeup & RTK timer cariables/variables
#*7200# Tone Generator Mute
#*3888# BLUETOOTH Test mode
#*7828# Task screen
#*#8377466# S/W Version & H/W Version
#*2562# Restarts Phone
#*2565# No Blocking? General Defense.
#*3353# General Defense, Code Erased.
#*3837# Phone Hangs on White screen.
#*3849# Restarts Phone
#*7337# Restarts Phone (Resets Wap Settings)
#*2886# AutoAnswer ON/OFF
#*7288# GPRS Detached/Attached
#*7287# GPRS Attached
#*7666# White Screen
#*7693# Sleep Deactivate/Activate
#*2286# Databattery
#*2527# GPRS switching set to (Class 4, 8, 9, 10)
#*2679# Copycat feature Activa/Deactivate
#*3940# External looptest 9600 bps
#*4263# Handsfree mode Activate/Deactivate
#*2558# Time ON
#*3941# External looptest 115200 bps
#*5176# L1 Sleep
#*7462# SIM Phase
#*7983# Voltage/Freq
#*7986# Voltage
#*8466# Old Time
#*2255# Call Failed
#*5376# DELETE ALL SMS!!!!
#*6837# Official Software Version: (0003000016000702)
#*2337# Permanent Registration Beep
#*2474# Charging Duration
#*2834# Audio Path (Handsfree)
#*3270# DCS Support Activate/Deactivate
#*3282# Data Activate/Deactivate
#*3476# EGSM Activate/Deactivate
#*3676# FORMAT FLASH VOLUME!!!
#*4760# GSM Activate/Deactivate
#*4864# White Screen
#*7326# Accessory
#*7683# Sleep variable
#*3797# Blinks 3D030300 in RED
#*7372# Resetting the time to DPB variables
#*3273# EGPRS multislot (Class 4, 8, 9, 10)
#*7722# RLC bitmap compression Activate/Deactivate
#*2351# Blinks 1347E201 in RED
#*2775# Switch to 2 inner speaker
#*7878# FirstStartup (0=NO, 1=YES)
#*3838# Blinks 3D030300 in RED
#*2077# GPRS Switch
#*2027# GPRS Switch
#*0227# GPRS Switch
#*0277# GPRS Switch
#*22671# AMR REC START
#*22672# Stop AMR REC (File name: /a/multimedia/sounds/voice list/ENGMODE.amr)
#*22673# Pause REC
#*22674# Resume REC
#*22675# AMR Playback
#*22676# AMR Stop Play
#*22677# Pause Play
#*22678# Resume Play
#*77261# PCM Rec Req
#*77262# Stop PCM Rec
#*77263# PCM Playback
#*77264# PCM Stop Play
#*22679# AMR Get Time
*#8999*364# Watchdog ON/OFF
*#8999*427# WATCHDOG signal route setup
*2767*3855# = Full Reset (Caution every stored data will be deleted.)
*2767*2878# = Custom Reset
*2767*927# = Wap Reset
*2767*226372# = Camera Reset (deletes photos)
*2767*688# Reset Mobile TV
#7263867# = RAM Dump (On or Off)


On the main screen type

*2767*49927# = Germany WAP Settings
*2767*44927# = UK WAP Settings
*2767*31927# = Netherlands WAP Settings
*2767*420927# = Czech WAP Settings
*2767*43927# = Austria WAP Settings
*2767*39927# = Italy WAP Settings
*2767*33927# = France WAP Settings
*2767*351927# = Portugal WAP Settings
*2767*34927# = Spain WAP Settings
*2767*46927# = Sweden WAP Settings
*2767*380927# = Ukraine WAP Settings
*2767*7927# = Russia WAP Settings
*2767*30927# = GREECE WAP Settings
*2767*73738927# = WAP Settings Reset
*2767*49667# = Germany MMS Settings
*2767*44667# = UK MMS Settings
*2767*31667# = Netherlands MMS Settings
*2767*420667# = Czech MMS Settings
*2767*43667# = Austria MMS Settings
*2767*39667# = Italy MMS Settings
*2767*33667# = France MMS Settings
*2767*351667# = Portugal MMS Settings
*2767*34667# = Spain MMS Settings
*2767*46667# = Sweden MMS Settings
*2767*380667# = Ukraine MMS Settings
*2767*7667#. = Russia MMS Settings
*2767*30667# = GREECE MMS Settings

*#7465625# = Check the phone lock status
*7465625*638*Code# = Enables Network lock
#7465625*638*Code# = Disables Network lock
*7465625*782*Code# = Enables Subset lock
#7465625*782*Code# = Disables Subset lock
*7465625*77*Code# = Enables SP lock
#7465625*77*Code# = Disables SP lock
*7465625*27*Code# = Enables CP lock
#7465625*27*Code# = Disables CP lock
*7465625*746*Code# = Enables SIM lock
#7465625*746*Code# = Disables SIM lock
*7465625*228# = Activa lock ON
#7465625*228# = Activa lock OFF
*7465625*28638# = Auto Network lock ON
#7465625*28638# = Auto Network lock OFF
*7465625*28782# = Auto subset lock ON
#7465625*28782# = Auto subset lock OFF
*7465625*2877# = Auto SP lock ON
#7465625*2877# = Auto SP lock OFF
*7465625*2827# = Auto CP lock ON
#7465625*2827# = Auto CP lock OFF
*7465625*28746# = Auto SIM lock ON
#7465625*28746# = Auto SIM lock OFF

Type *#9998*627837793# Go to the 'my parameters' and there you will find new menu where you can unlock phone.(not tested-for samsung C100)
To unlock a Samsung turn the phone off take the sim card and type the following code *#pw+15853649247w# .
Java status code: #*53696# (Samsung X600)

If you want to unlock your phone put a sim from another company then type *#9998*3323# it will reset your phone. Push exit and then push 7, it will reset again. Put your other sim in and it will say sim lock, type in 00000000 then it should be unlocked. Type in *0141# then the green call batton and it's unlocked to all networks. This code may not work on the older phones and some of the newer phones. If it doesn't work you will have to reset your phone without a sim in it by typing *#2767*2878# or *#9998*3855# (not tested)



SONY ERICCSON SECRET CODES:

On the main screen type

Sony Ericsson Secret Menu: -> * <- <- * <- *
(-> means press joystick, arrow keys or jogdial to the right and <- means left.)
You'll see phone model, software info, IMEI, configuration info, sim lock status, REAL time clock, total call time and text labels.
You can also test your phones services and hardware from this menu (main display, camera, LED/illumination, Flash LED, keyboard, earphone, speaker, microphone, radio and vibrator tests)

IMEI Number: *#06#
Lockstatus: <- * * <-
Shortcut to last dialed numbers: 0#
Shortcut to sim numbers: On main menu type a number and press #

If you change the language from default to any other language, then it may be difficult to switch to default language. The shortcut is very simple. Just press < 0000 > . < stands for left arrow button or joystick and > stands for right arrow button or joystick.


baca selanjutnya